NEWS

CREATE NEW +
USER

NEWS

Article tentang Imooji di Jawa Pos

Liputan Imooj di Jawa Pos

 

Layani Digital Show Secara Profesional dan Probono

SENIN, 06 MAR 2017 10:47

KOLABORASI: Chief Operating Officer Imooji Junaidi Widyarto Irwan (kiri) serta Co-Founder & CEO Imooji Mujianto Rusman memberikan solusi digital marketing untuk UKM.

KOLABORASI: Chief Operating Officer Imooji Junaidi Widyarto Irwan (kiri) serta Co-Founder & CEO Imooji Mujianto Rusman memberikan solusi digital marketing untuk UKM. (Frizal/Jawa Pos)

 

Instagram kini tidak sekadar menjadi ajang pamer foto. Media sosial itu telah berkembang menjadi tempat berjualan oleh para pengusaha rintisan. Nah, Imooji menyediakan digital show yang tidak bercampur dengan media sosial.

---

IMOOJI yang dibangun Mujianto Rusman dan Junaidi Widyarto Irwan merupakan platform online untuk digital show. Awalnya, Imooji hanya menyediakan template untuk event invitatione-brosur, maupun katalog promo. 

Namun, layanan kini telah dilengkapi greeting cardform pendaftaran, hingga form feedback. ''Bisa dikatakan ini merupakan interactive show,'' kata Mujianto Rusman.

Lantaran pasar komputer desktop terus menurun akibat perkembangan tablet dan ponsel, alumnus Texas A&M itu membuat aplikasi yang berguna untuk pebisnis.

Sebelum mengembangkan Imooji, Mujianto pernah mengembangkan aplikasi untuk berbagi foto event. Dari pengalaman membuat aplikasi tersebut, Mujianto melihat adanya kebutuhan dari brand atau pemilik event terhadap sebuah sarana untuk memasarkan.

Mujianto mencontohkan, foto-foto di acara pernikahan tidak sulit disimpan dan dibagikan karena sudah banyak solusinya. Namun, mempromosikan pesta pernikahan lebih menantang. Hal serupa dialami brand atau usaha kecil menengah yang berupaya memasarkan produk, jasa, maupun acara yang mereka selenggarakan. 

''Kuncinya tetap how to market. Karena saat ini sudah zaman digital marketing, Google memberikan solusi, tapi terlalu mahal bagi UKM. Akhirnya mereka memasarkan produk di media sosial,'' katanya.

Melihat peluang tersebut, Mujianto dan rekannya membangun Imooji yang bertujuan membantu brand-brand besar dan pengusaha UKM sukses melakukan digital marketing. ''Kami bantu brand dan UKM memasarkan dari membuat brosur interaktif yang mereka butuhkan,'' paparnya.

Imooji dikembangkan sejak awal 2016 dan dikenalkan ke klien-klien 3-4 bulan. Mereka memanfaatkan jaringan pertemanan dan komunitas untuk mengenalkan Imooji. Misalnya, Breast Cancer Association Surabaya. ''Kami berikan gratis, bahkan sampai kami buatkan. Kami ajari mereka, kami tanya feedbackmereka, lantas kami pelajari lagi,'' ujar Mujianto. 

Melalui Imooji, komunitas-komunitas didorong untuk membuat video edukasi yang bisa ditautkan melalui YouTube. ''Tidak perlu sign-in untuk melihat apa yang mereka bagikan,'' urainya. 

Imooji juga bisa dibagikan via aplikasi chatting seperti WhatsAppBlackberry Messanger, maupun Line. Karena menggarap profesional dan segmen komunitas, Imooji memiliki layanan berbayar dan tidak berbayar.

''UKM bisa memanfaatkan Imooji yang tidak berbayar. End user bisa langsung mendaftar di website.Lalu bisa mendesain dan membuat Imooji mereka sendiri,'' terangnya.

Sedangkan untuk segmen profesional, klien-klien Imooji adalah brand-brand besar yang tidak ingin repot, ingin tampil beda, dan minta custom. ''Mereka tinggal kirim konten, lalu kami desain dan buatkan sesuai dengan permintaan mereka,'' ujarnya.

Meski berbayar, tarif untuk segmen profesional pun masih relatif murah lantaran harganya disubsidi oleh Imooji. ''Ini membantu kami mengenalkan dan mengangkat Imooji,'' urainya. Sebab, memang awalnya Imooji diciptakan untuk UKM maupun individu dan tidak berbayar.

Berpromosi dengan Imooji berbeda dengan media sosial. Bila menggunakan media sosial, konsumen masih perlu mencatat nomor kontak atau mengetik order secara manual. 

''Di Imooji bisa langsung disambungkan ke form buat isi purchase order sehingga bisa memangkas proses dan mengurangi kesalahan,'' terangnya. (vir/c4/noe)

 

Atasi Kelemahan Medsos 

HINGGA saat ini, Imooji mengandalkan web based dan belum merambah aplikasi. Salah satu penyebabnya, aplikasi memiliki kelemahan mendasar. Yakni, pasarnya sudah jenuh. 

Menurut Mujianto, salah satu kelemahan aplikasi adalah hanya diunduh ketika orang membutuhkan. Jika sudah tidak dibutuhkan, aplikasi sangat mungkin akan dihapus pengguna. ''Bisa bikin lemot. Ini alasan kami nggak bikin aplikasi,'' jelas suami Angeline Harjono tersebut. 

Selain itu, jika menggunakan aplikasi, pengguna harus mengunduhnya agar bisa melihat konten yang dibagikan pengguna. Hal tersebut berpotensi membatasi penyebaran konten yang ingin dibagikan pengguna Imooji.

Mujianto berharap Imooji bisa menjadi sarana pengenalan produk dan layanan yang terarah. ''Misal orang ingin tahu produk tertentu, tinggal search di Imooji, lalu bisa ketemu di sana. Itu bisa terjadi saat jumlah pengguna Imooji sudah banyak seperti pengguna Instagram,'' katanya. 

Hal tersebut bisa terjadi lantaran mayoritas pelaku usaha rintisan mengandalkan pemasaran online. Tantangan Imooji saat ini adalah mengedukasi pasar. 

''Di sini, masyarakat masih susah membedakan Imooji dengan marketplace (seperti Lazada atau Tokopedia, Red),'' ungkap Junaidi. 

Jadi, beberapa kali mereka harus turun langsung untuk membuatkan Imooji bagi pengguna agar mereka memahami cara kerja Imooji. ''Kami juga mencoba Imooji bisa mengatasi persoalan pemasaran. Salah satunya, mengatasi tren media sosial yang terus berubah,'' ucap Mujianto. 

Imooji juga didesain untuk mengatasi kelemahan berpromosi di sosial media. Di antaranya, harus follow lebih dulu jika akun tersebut di-private. Tanda pagar (hashtag) kadang juga tidak cukup membantu karena jika kata kuncinya salah, bisa produk lain yang muncul. 

''Selain itu, sulit sekali memonitor berapa viewer-nya. Berbeda dengan Imooji yang bisa terlihat secara jelas,'' ujarnya. (vir/c23/noe)

 

 < 12 3 4 >